#ReviewGempakID; Captain Marvel (2019) - Superhero Terkuat dengan Eksekusi Film Terlemah
Pada awal Maret 2019 kemarin, salah satu film yang datang dari Marvel Cinematic Universe (MCU) kembali menembus rekor Box Office global dengan meraih pendapatan tiket sebesar $812,2 juta dolar hanya dalam kurun waktu 15 hari.
Menjadi film pertama MCU yang tayang di 2019 sebelum Avengers: Endgame, maka sebuah hal yang dapat dimaklumi bahwa banyak yang menaruh harapan besar pada superhero yang akan menjadi kunci dari penaklukan Thanos ini.

Harus diakui, meskipun disajikan secara kurang mulus, namun usaha Captain Marvel untuk membahas seksisme struktural, sistem patriarki, dan 'mansplaining' serta bagaimana film ini menghindari "romantic interest" sub-plot untuk karakter utamanya patut diberikan apresiasi lebih. Samuel L. Jackson sebagai Nick Fury berhasil mencuri perhatian dengan membangun chemistry yang kuat dengan Brie Larson sebagai Carol Danver dan Goose, karakter kucing pertama di MCU yang sangat menggemaskan.

Meskipun begitu, sayangnya Captain Marvel jauh dari kata "menarik" karena pacing yang terlalu terburu-buru dan skenario yang terlalu tumpang tindih. Carol Danvers sebagai karakter utama pun tidak diberikan lapisan karakter yang memadai bagi para penonton untuk melihatnya sebagai manusia dan bukan hanya makhluk dua dimensi pembasmi patriarki.

Dengan sangat menyesal saya katakan bahwa Captain Marvel berada di satu barisan dengan Thor: The Dark World dan Avengers: Age of Ultron sebagai film MCU yang paling mengecewakan bagi saya.