HOLLYWOOD
#ReviewGempakID; Captain Marvel (2019) - Superhero Terkuat dengan Eksekusi Film Terlemah
Pada awal Maret 2019 kemarin, salah satu film yang datang dari Marvel Cinematic Universe (MCU) kembali menembus rekor Box Office global dengan meraih pendapatan tiket sebesar $812,2 juta dolar hanya dalam kurun waktu 15 hari.
Berjudul Captain Marvel, film ini menceritakan kisah seorang pilot jet tempur bernama Carol Danver yang terjebak di tengah-tengah perang dua ras alien yang berbeda hingga ia akhirnya jatuh ke Bumi, bertemu Nick Fury, dan menemukan siapa dia sebenarnya.
Menjadi film pertama MCU yang tayang di 2019 sebelum Avengers: Endgame, maka sebuah hal yang dapat dimaklumi bahwa banyak yang menaruh harapan besar pada superhero yang akan menjadi kunci dari penaklukan Thanos ini.
Beban juga bertambah berat tatkala film ini akan menjadi cerita awal mula dari superhero perempuan pertama untuk MCU. Mengingat kesuksesan Wonder Woman bagi DC, bukan hal yang berlebihan bila publik memiliki ekspektasi besar bagi Captain Marvel untuk tidak hanya menjadi film yang spektakuler, namun juga memiliki banyak nilai nilai feminisme yang terkandung di dalamnya.

Harus diakui, meskipun disajikan secara kurang mulus, namun usaha Captain Marvel untuk membahas seksisme struktural, sistem patriarki, dan 'mansplaining' serta bagaimana film ini menghindari "romantic interest" sub-plot untuk karakter utamanya patut diberikan apresiasi lebih. Samuel L. Jackson sebagai Nick Fury berhasil mencuri perhatian dengan membangun chemistry yang kuat dengan Brie Larson sebagai Carol Danver dan Goose, karakter kucing pertama di MCU yang sangat menggemaskan.

Meskipun begitu, sayangnya Captain Marvel jauh dari kata "menarik" karena pacing yang terlalu terburu-buru dan skenario yang terlalu tumpang tindih. Carol Danvers sebagai karakter utama pun tidak diberikan lapisan karakter yang memadai bagi para penonton untuk melihatnya sebagai manusia dan bukan hanya makhluk dua dimensi pembasmi patriarki.
Anna Boden dan Ryan Fleck terlihat seperti kebingungan dalam meramu formula identik film MCU dengan cerita otentik Captain Marvel serta signature mereka sendiri. Walhasil, semua joke yang dibangun menjadi meleset, semua soundtrack 90an yang dimasukkan menjadi "fals", dan tone film juga jadi membingungkan.

Dengan sangat menyesal saya katakan bahwa Captain Marvel berada di satu barisan dengan Thor: The Dark World dan Avengers: Age of Ultron sebagai film MCU yang paling mengecewakan bagi saya.
Kamu mungkin akan lebih menyukainya bila kamu memang seorang advokat kuat dari feminisme gelombang ketiga, namun bila mengharapkan sajian cerita yang nikmat, lebih baik langsung skip ke April akhir saja.
Rating: 3/5
Kredit Foto: DigitalSpy, Marvel
Oleh: Tommy Pranama
Must-Watch Video