Semua orang sayangkan anak. Itu naluri biasa ibu bapa kepada anak yang dilahir dan dibesarkan. Namun, cara menunjuk sayang haruslah dengan haluan yang betul agar kasih-sayang itu tidak bertukar menjadi bencana. Jadikan filem Anakku Sazali sebagai iktibar besar bagaimana kesilapan ayah dalam melahirkan sayangnya kepada anak. Akhirnya anak rosak dan mengecewakan hati ayahnya.


Ya, tidak salah untuk memanjakan anak dengan sesuatu bersifat material tetapi jangankan itu ‘umpan’ atau ‘benda wajib’ membeli jiwa anak. Beli dan suburkan jiwa anak-anak dengan ilmu dunia akhirat yang akan menjadi sinar sepanjang perjalanannya di alam sementara ini dan alam kekal di sana.


Lengkapkan anak dengan ilmu dunia yang dapat membantunya berjaya melalui hari-harinya di masa depan nanti. Paling penting, utamakan ilmu agama yang akan menjamin syurganya di akhirat nanti. Ibu ayah, jangan sibukkan diri mencari bekalan harta dunia kepada anak-anak. Tidak perlu. Berikan seadanya sahaja agar mereka bisa berdikari mencari sendiri.

Kredit Foto: Google




Harta Dunia Membawa Fitnah Kepada Anak-Anak Kelak


Banyak terjadi, harta pusaka yang ditinggalkan ibu ayah akhirnya menjadi pertikaian dan fitnah kepada waris yang ditinggalkan. Maka, elakkanlah perkara yang dirasakan boleh membawa bencana di kemudian hari. Harta dunia bukan jaminan anak-anak soleh solehah yang akan mendoakan kita di sana.


Bukan tidak boleh meninggalkan harta buat anak-anak. Memang ada bagusnya jika harta itu digunakan pada jalan yang memberi manfaat kepada si mati nanti. Namun, yang lazim didengar sebaliknya. Lagi pula, kita tidak mahu harta berkoyan-koyan yang ditinggalkan menjadi beban ibu ayah di sana nanti dek kecetekan waris dalam menguruskannya.


Orang kata, rumah mak ayah selalunya menjadi rumah anak-anak. Namun, belum tentu rumah anak-anak menjadi rumah mak ayah. Anak-anak boleh pakai duit mak ayah tanpa rasa bersalah tapi mak ayah belum tentu tergamak memakai wang anak-anak. Ada mak ayah membekalkan anak harta untuk mengambil hati si anak dan atas dasar tanggungjawab katanya.


Ada yang berharap supaya apabila mereka tua nanti, anak-anaklah tempat mereka bergantung semula dan menjaga mereka. Tidak semua yang diimpikan menjadi kenyataan ibu ayah. Maka, jika mahu menatang anak-anak dengan harta, silalah tetapi berilah seikhlas hati tanpa mengharap balasan kerana jika berlaku sebaliknya, ibu ayah tidak akan kecewa.




Kredit Foto: Google


11 Nasihat Luqman Al-Hakim Kepada Anaknya (Jadikan Contoh)

Berdasarkan al-Quran surah Luqman ayat 13, 16, 17, 18, dan 19 terdapat 10 nasihat Lukmanul Hakim kepada anaknya.

1. Jangan mempersekutukan Allah (Surah 31 Luqman : ayat 13)
Ertinya : “Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu memnyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
Lukman berpesan kepada anaknya sebagai orang yang paling disayanginya dan paling berhak mendapat pemberian paling utama dari pengetahuannya. Oleh karena itulah, Lukman dalam nasihat pertamanya berpesan agar anaknya menyembah Allah semata, tidak menduakan-Nya dengan dengan sesuatu pun seraya memperingatkan kepadanya.


2. Berbuat baik kepada kedua orang ibu bapa (Surah 31 Luqman : ayat 14)
Ertinya : "Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyusukannya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” Ini disokong lagi dengan Surah 17 Al-Isra : ayat 23
Ertinya : “Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sesekali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”


3. Memegang teguh ketauhidan dan sedar akan pengawasan Allah (Surah 31 Luqman ayat 16)
Ertinya : “(Luqman berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” Seandainya amal sekecil zarah (biji kecil) itu dibentengi dan ditutupi berada dalam batu besar yang membisu atau hilang dan lenyap di kawasan langit dan bumi, maka sesungguhnya Allah SWT pasti akan membalasnya. Demikianlah karena sesungguhnya Allah pasti akan membalasnya. Demikianlah karena sesungguhnya Allah, tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya dan tiada sebutir zarah pun, baik yang ada di langit maupun di bumi, terhalang dari penglihatan-Nya. Oleh sebab itulah disebutkan oleh firman-Nya, (Surah 31 Luqman : ayat 13)
Ertinya : “Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” Lathiifun, Maha Halus pengetahuan-Nya, sehingga segala sesuatu tiada yang tersembunyi betapa pun lembut dan halusnya. Khabiirun, Maha Mengetahui langkah-langkah semut sekecil apa pun yang ada di kegelapan malam yang sangat pekat. Jamaal ‘Abdul Rahman mengutip pemaparan al-Qurthubi, diceritakan bahwa anak Lukman al-Hakim bertanya kepada ayahnya tentang sebutir biji yang jatuh ke dasar laut, apakah Allah mengetahuinya? Maka Lukman menjawabnya dengan mengulangi jawaban semula yang disebutkan dalam firman-Nya, (Surah 31 Luqman : ayat 16).


4. Dirikan solat (Surah 31 Luqman : ayat 17)
Lukman al-Hakim terus-menerus memberikan pengarahan kepada anaknya dalam pesan selanjutnya. Kisahnya disebutkan oleh firman-Nya, Ertinya : “Hai anakku, Dirikanlah shalat….”


5. Miliki keberanian memerintah kepada kebaikan (Surah 31 Luqman : ayat 17)
Pesan Lukman al-Hakim adalah agar anaknya memiliki keberanian untuk memerintah manusia untuk berbuat baik. Firman Allah SWT, Ertinya : “…dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik….”


6. Miliki keberanian mencegah kemungkaran (Surah 31 Luqman : ayat 17)
Ertinya :“…dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar….”


7. Bersabar terhadap musibah yang menimpa (Surah 31 Luqman : ayat 17)
Ertinya : “…dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”


8. Jangan bersikap sombong terhadap orang lain (Surah 31 Luqman : ayat 18)
Ertinya : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)….”
Ertinya di sini ialah hadapkanlah wajahmu ke arah mereka dengan penampilan yang simpatik dan menawan. Apabila orang yang paling muda di antara kita berbicara dengan kita, dengarkanlah ucapannya sampai dia menghentikan perbicaraannya. Demikianlah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.


9. Jangan angkuh dalam menjalani hidup (Surah 31 Luqman : ayat 18)
Ertinya : “…dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” Berjalan di muka bumi dengan angkuh, ialah cara berjalan dengan langkah yang angkuh dan sombong dan enggan untuk bercampur gaul dengan orang lain (disebabkan kesombongannya itu). Cara berjalan yang maupun Khalik (Allah SWT) atapun makhluk (manusia) sama-sama tidak menyukainya. Cara berjalan yang sombong adalah melambangkan akan lupa dirinya seorang hamba kepada Dzat Allah SWT (yang hanya Dia yang berhak untuk sombong).
Manusia menjalani hidup diantaranya dengan berjalan menelusuri relung-relung kehidupan setiap harinya. Lukman al-Hakim mengajarkan kepada anaknya untuk tetap tawadlu’ (rendah hati) dan tidak takabbur (sombong) diantaranya dengan menekankan agar dalam cara berjalan tidak berjalan dengan angkuh dan sombong.


10. Sederhanakan cara berjalan (Surah 31 Luqman : ayat 19)
Ertinya : “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan….” (Al-Qur’an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 412). Maksudnya berjalanlah dengan cara jalan yang pertengahan, tidak dengan langkah yang lambat dan tidak pula dengan langkah yang terlalu cepat, namun dengan langkah yang pertengahan antara lambat dan cepat. Nasihat Lukman al-Hakim yang kesembilan ini adalah sesuai dengan salah satu sifat ‘Ibaadu’r-Rahmaan (hamba-hamba yang baik dari Tuhan yang Maha Penyayang). Firman Allah SWT, (Surah 25 Al-Furqan : ayat 63)
Ertinya : “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”


11. Lunakkan suara (Surah 31 Luqman : ayat 19)
Ertinya : “…Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. Nasihat ini bukan sahaja untuk Luqman kepada anaknya pada hakikatnya, tapi juga nasihat untuk diri kita sendiri dan anak-anak kita berjalan menelusuri relung-relung kehidupan setiap harinya.